Pergi Tamasya
Deredia
Bawa aku ke utara, langit menulis puisi di atas sela-sela jendela
Kopi pagi menyala, riuh kereta menari-nari di rel kenangan
Kita lewat stasiun tua, nama kita terukir di lumaran dinding
Tanganmu genggam daun kering, kuberi tawa yang belum sempat layu
Sampai di pantai sabtu, ombak mengucap salam berulang-ulang
Kita tulis mimpi di pasir, lalu biar air menghapus, supaya terus baru
Matahari terbenam, warna kulitmu jadi lagu yang tak punyi judul
Kita pulang membawa kerang—di dalamnya denting kereta tadi menggema
Pergi tamasya, sebelum kota kembaca kita seperti koran lama
Pergi tamasya, sebelum waktu bosan menunggu kita dewasa